Debu tebal telah menjadi momok menakutkan bagi warga Dukuh Guwo, Desa Gadingrejo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Kehadiran pabrik cor beton di Pati telah memicu kemarahan. Mereka pun tak tinggal diam, melancarkan demonstrasi. Debu yang beterbangan mencemari permukiman dan mengancam kesehatan.
Warga mengeluhkan dampak polusi yang sangat parah. Jarak pabrik yang terlalu dekat dengan permukiman. Hanya sekitar 100-200 meter, membuat debu mudah terbawa angin. Akibatnya, rumah-rumah warga selalu diselimuti lapisan debu.
“Ini dampaknya polusi bagi warga, pabriknya terlalu dekat dengan permukiman warga. Kami tidak terima,” ungkap salah satu warga, Darmo, yang ikut dalam aksi protes. Ia khawatir akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan, terutama anak-anak.
Warga juga mempertanyakan izin pendirian pabrik ini. Mereka merasa tidak pernah dimintai persetujuan. Pabrik cor beton tersebut tiba-tiba berdiri. Beroperasi tanpa sosialisasi yang jelas kepada masyarakat sekitar.
“Pabrik ini berdiri sudah satu bulan ini. Tanpa pengetahuan dengan warga sekitar. Langsung mendirikan pabrik ini,” tambah Darmo. Warga menuding pabrik ini beroperasi secara ilegal. Ini menunjukkan kurangnya transparansi dari pihak pengelola.
Dampak kesehatan dari debu pabrik cor beton sangat serius. Paparan debu yang mengandung partikel semen dan bahan kimia lain dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Seperti iritasi saluran pernapasan, bronkitis, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) jika terpapar dalam jangka panjang.
Warga merasa sesak napas dan khawatir akan masa depan anak cucu mereka. Apalagi, debu sudah terasa bahkan sejak tahap pengurukan lahan. Mereka membayangkan betapa parahnya nanti saat pabrik sudah beroperasi penuh.
Sekretaris Desa Gadingrejo, Sarwi, membenarkan. Pabrik cor beton tersebut belum memiliki izin resmi dari pemerintah desa. Hal ini memperkuat dugaan warga. Bahwa pabrik ini beroperasi tanpa legalitas yang jelas.
Dalam aksi demonstrasi, warga membawa berbagai poster dan spanduk. Isinya menolak keberadaan pabrik dan menuntut penutupan. Mereka bahkan menggelar doa bersama sebagai bentuk penolakan.
Warga telah bersurat kepada DPRD Pati. Namun, hingga kini belum ada respons yang memuaskan. Sementara dari pihak pabrik, tidak ada perwakilan yang memberikan pernyataan saat demo berlangsung.
