Setiap kali memasuki bulan suci Ramadan, hampir seluruh sekolah di Indonesia menyelenggarakan program rutin tahunan yang dikenal sebagai Pesantren Kilat. Program ini dirancang untuk memberikan suplemen pendidikan agama bagi siswa dalam durasi waktu yang singkat, biasanya berkisar antara tiga hingga tujuh hari. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul kritik tajam dari berbagai kalangan pendidik dan orang tua yang menilai bahwa pelaksanaan kegiatan ini sering kali hanya menjadi ajang penggugur kewajiban atau sekadar kegiatan seremonial tanpa adanya output pembelajaran yang jelas dan terukur bagi perkembangan akhlak siswa.
Kesan bahwa Pesantren Kilat hanya bersifat formalitas terlihat dari penyusunan kurikulum yang cenderung monoton dan hanya mengulang materi-materi dasar yang sudah didapatkan siswa di kelas reguler. Metode penyampaian yang bersifat satu arah tanpa adanya diskusi interaktif membuat siswa merasa bosan dan tidak mendapatkan pemahaman spiritual yang baru. Sering kali, fokus kegiatan justru lebih berat pada aspek administratif seperti pengisian buku agenda Ramadan, dibandingkan pada internalisasi nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan empati yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan karakter di lingkungan sekolah selama bulan suci.
Perlu adanya evaluasi menyeluruh agar program Pesantren Kilat dapat kembali pada marwahnya sebagai wadah pembentukan karakter yang efektif. Sekolah dituntut untuk lebih kreatif dalam merancang materi yang relevan dengan tantangan zaman yang dihadapi remaja saat ini, seperti etika bermedia sosial, bahaya perundungan, hingga moderasi beragama. Jika materi yang diberikan tetap sama dari tahun ke tahun tanpa adanya inovasi metode pengajaran, maka target peningkatan literasi keagamaan di kalangan siswa akan sulit tercapai. Kualitas pengajar atau narasumber yang didatangkan juga harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar pesan-pesan moral dapat tersampaikan dengan tepat sasaran.
Dampak dari pelaksanaan Pesantren Kilat yang kurang berkualitas adalah munculnya sikap apatis dari siswa terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah. Siswa cenderung mengikuti acara hanya untuk mengejar absensi tanpa ada perubahan perilaku yang signifikan setelah kegiatan berakhir. Oleh karena itu, penting bagi pihak sekolah untuk melakukan asesmen atau penilaian pasca-kegiatan guna melihat sejauh mana materi yang diberikan dapat dipahami dan diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sinergi antara guru agama dan guru mata pelajaran lain juga diperlukan agar nilai-nilai spiritualitas dapat terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan sekolah, bukan hanya saat bulan puasa saja.
